membuat pertanyaan

Bagaimana agama dapat mempengaruhi pola konsumsi masyarakat?

Apakah pengaruh demografi terhadap budaya konsumen?

Dewi Liijulfitri

Undergarduate Student Majoring in Biology, Faculty of Matematic and Natural Sciences,

Bogor Agricultural University.

Notes On Consumer Behavior Class IKK 231.

1

Kuliah 2 Prilaku Konsumen

Kepribadian

Kepribadian meliputi : pola konsumsi merupakan reaksi terhadap lingkungan, perbedaan karakteristik dalam diri manusia, dan respon individu terhadap lingkungan. Karakteristik kepribadian menggambarkan perbedaan individu, konsisten dan berlangsung lama, dan kepribadian itu bersifat dinamis yaitu dapat berubah.

Freud adalah salah satu ahli yang mengemukakan teori tentang kepribadian individu yang dikenal dengan “Teori Kepribadian Freud”. Teori tersebut mempelajari aspek-aspek yang mempengaruhi kepribadian manusia, seperti : aspek id, superego, ego, Neo-Freud, dan gaya hidup. Aspek id yaitu aspek kepribadian yang berkaitan dengan permasalahan biologis manusia seperti makan dan menikah. Superego adalah aspek yang berkaitan dengan psikologis manusia. Ego merupakan aspek yang berkaitan dengan unsure fisiologis. Banyak orang berpendapat bahwa superego dan ego selalu negatif, padahal keduanya bersifat positif selama kita dapat mengendaikan diri dengan baik. Neo-Freud adalah aspek yang berkaitan dengan teori social psikologi yang berkaitan dengan lingkungan sosial dan motivasi. Gaya hidup merupakan refleksi dari kepribadian dimana seseorang yang memiliki gaya hidup yang teratur dapat menjadikan dapat mencirikan kepribadian yang rapih dan terarah dalam konsep diri orang tersebut. Konsep diri merupakan gabungan dari kepribadian dan gaya hidup. Manfaat kepribadian adalah fungsional dan psikologis.

Ada empat konsep diri menurut Hawkind dan Mothersbaugh,yaitu : aktual, konsep social, private, dan ideal.

 

 

Nama   : Dewi Liijulfitri

NRP     : G34100074

Laskar  : 20

Cerita Inspirasi

Seorang Ibu Luar Biasa

Ini adalah sebuah kisah dari seorang ibu yang sangat luar biasa. Sebut saja namanya Aminah, karena memang demikianlah biasa Ia dikenal oeh tetangganya.

Pada awalnya, kehidupan Bu Aminah sangat bahagia dan hidup berkecukupan. Walaupun menjadi anak tunggal yang tidak memiliki warisan apapun dari kedua orangtuanya yang telah meninggal, tetapi Ia memiliki seorang suami yang sangat menyayanginya. Namanya Pak Ahmad. Pak Ahmad adalah seorang wirausahawan yang memiliki toko kain di Pasar Baru. Setiap hari Pak Ahmad bekerja mengurus kain dari pagi hingga petang, sementara Bu Aminah bekerja sebagai ibu rumah tangga, meskipun terkadang Bu Aminah sering membantu suaminya di toko jika Ia tidak terlalu sibuk mengurus anak-anak  mereka. Dari uang hasil penjualan kainlah mereka mampu menghidupi ke dua puluh anaknya. Ya, dua puluh, jumlah yang tidak sedikit bukan?. Namun, Pak Ahmad dan Bu Aminah yakin mampu mendidik ke dua puluh anaknya dengan baik, karena bagi mereka anak adalah titipan Allah yang senantiasa telah dianugrahkan rezeki masing-masing.

Namun, kondisi ekonomi keluarga ini mulai terguncang saat Pak Ahmad di panggil oleh Sang Maha Kuasa. Sebelum meninggal, Ia sempat berpesan agar Bu Aminah senantisa mendidik ke dua puluh anak mereka dengan landasan agama. Selain itu, Bu Aminah dapat meneruskan pekerjaan suaminya menjadi seorang wirausahawan dan tetap menjaga toko kain milik mereka.  Bu Aminah pun mengalami kesedihan yang luar biasa semenjak kehilangan suaminya tercinta. Tetapi kesedihan itu tidak terlalu larut Ia rasakan, karena Ia berusaha untuk bangkit dan Ia bertekat untuk menjalankan amanah mendiang suaminya.

Bu Aminah menyadari, bahwa kini Ia adalah tulang punggung keluarganya. Ujung tombak bagi kedua puluh anaknya. Bu Aminah mulai membenahi dirinya dan dengan membaca Basmalah, ketika itu, mulailah Ia menggantikan suaminya menjadi wirausahawan kain. Setiap hari Ia berusaha membagi waktu antara bekerja dan mengurus ke dua puluh anaknya. Bu Aminah senantiasa memberikan amanah kepada anak-anaknya untuk saling menjaga, saling tolong-menolong, belajar hidup mandiri dan hidup berqonaah. Anaknya yang tertua yang bernama Alif harus mampu menjadi Imam bagi adik-adiknya. Perjuangan Bu Aminah begitu gigih dalam mendidik anak-anaknya. Ia rela membanting tulang untuk menghidupi dan memenuhi kebutuhan anak-anak mereka. Tak ada keluahan dari tuturnya. Semua anaknya pun bersekolah.

Selain dikenal pantang menyerah, Bu Aminah juga dikenal rajin bersodaqoh. Walaupun anaknya banyak, Ia tetap rajin memberikan sebagian hartanya. Bahkan menurut penuturan Pak Bagas, seorang ustad yang mengkoordinasi Shodaqoh, Infak, dan Zakat masjid di kampung itu, Bu Aminah adalah donatur yang pengeluaran shodaqohnya terbesar. Pak Bagas tak habis fikir bagaimana Bu Aminah yang penghasilannya tak seberapa sebagai penjual kain mampu menghidupi kedua puluh anaknya yang semuanya berpendidikan dan mampu menjadi donatur dengan pengeluaran zakat tertinggi.

Ternyata, setelah di tanyakan langsung kepada Bu Aminah, wanita yang usianya hampir tujuh puluh tahun itu menuturkan bahwa Ia merasa berkecukupan dengan penghasilannya sehingga Ia mampu mengeluarkan shodaqoh, infak dan zakat semampunya. Soal anaknya yang banyak, biaya sekolah ke dua puluh anaknya ternyata tak pernah memberatkannya. Dari anaknya yang pertama, yaitu Alif, hingga anak bungsunya yang ke duapuluh, Fariz, mereka selalu memperoleh beasiswa pendidikan. Bahkan, kini Alif telah menyelesaikan studynya di Harvard University dan bekerja di Amerika. Selain itu, anaknya yang kedua sampai kesebelas telah menjadi Dokter. Dan kelima anaknya pun telah menjadi sarjana, sementara anaknya yang lain masih bersekolah.

Itulah sedikit kisah seorang Ibu yang luar biasa. Bu Aminah mengaku bersyukur kepada Allah yang telah memberikannya kekuatan dan kesabaran dalam mendidik kedua puluh anaknya. Selain itu, Bu Aminah telah mampu menjalankan amanah dari mendiang suaminya. Walaupun anak-anaknya sudah sukses toko kain warisan sang suami masih tetap setia melayani para pelanggan yang mayoritasnya adalah penjahit.

Semoga cerita ini dapat bermanfaat dan menginspirasi kita semua.

Nama   : Dewi Liijulfitri

NRP     : G34100074

Laskar  : 20

Cerita Inspirasi 2

Seorang anggota Palang Merah

Sejak duduk di kelas VII Sekolah Menengah Pertama, aku memiliki keinginan untuk menjadi seorang anggota Palang Merah. Mungkin bagi sebagian orang, menjadi anggota palang merah bukanlah hal yang menyenangkan. Salah satunya yang menyampaikan demikian adalah teman satu bangku ku sendiri, Kiara namanya. “ Untuk apa menjadi anggota palang merah Wi, lebih baik masuk anggota club basket saja, toh club basket jauh lebih eksis daripada menjadi anggota palang merah. Sudah begitu anggota palang merahkan tugasnya Cuma nolong orang, ga ada tantangannya” katanya padaku ketika aku menuturkan keinginanku itu. Aku hanya menjawab penuturannya dengan tersenyum. Kata-kata Kiaralah yang menjadi motivasi ku untuk menjadi lebih baik dalam menjadi anggota palang merah.

Waktu terus berjalan, aku pun menjadi anggota palang merah remaja di sekolahku. Aku selalu mengikuti latihan wajib yang rutin dilaksanakan setiap satu minggu sekali. Latihannya macam-macam, ada latihan Pertolongan Pertama (PP), Perawatan Keluarga (PK), dan lain sebagainya. Semenjak menjadi anggota palang merah, aku selalu dituntut untuk selalu menjaga kebersihan.

Pernah pada suatu hari saat waktu bel istirahat berbunyi, terjadi suatu kecelakaan di dekat sekolahku yang letaknya tepat di pinggir jalan. Korbannya adalah seorang laki-laki yang berbadan gemuk dan berkulit hitam. Walaupun korbannya tidak begitu parah, hanya mengalami luka ringan, kami anggota palang merah merasa empati dan dengan segera memberikan pertolongan pertama. Semua tim palang merah laki-laki yang mayoritas berbadan kurus dengan susah payah membantu si korban untuk menuju UKS. Sebaliknya, kami yang perempuanpun menolong korban lain.

Hal lain yang paling berkesan adalah saat aku harus bertugas menjadi menjaga para peserta upacara bendera 17 Agustus yang dilaksanakan di lapangan samping sekolahku. Upacaranya dihadiri oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor dan pesertanya adalah murid-murid Sekolah Menengah Pertama sekabupaten Bogor. Saat bertugas, kondisi badanku sebenarnya agak kurang baik. Namun, sebagai seorang relawan aku harus tetap menjalankan tugasku dengan baik. Sebelum mulai bertugas semua anggota palang merah berdoa bersama agar kegiatannya berjalan dengan lancar.

Awalnya upacara berjalan dengan lancar, namun beberapa menit setelah itu mulai banyak peserta yang jatuh pingsan. Semakin lama semakin banyak dan semakin banyak. Kami tim palang merah agak kewalahan memberikan pertolongan karena jumlah anggota yang terbatas, selain itu kondisi badanku saja mulai tak karuan karena kelelahan. Namun aku tetap pantang menyerah dalam memberikan pertolongan. Siapa saja yang membutukan pertolongan medis, saat aku dapat menolong peserta tersebut, maka akan aku akan menolong. Aku menyadari bahwa aku harus profesional sebagai seorang relawan.

Setelah hampir satu tahun aku bergabung dalam organisasi ini. Teman sebangku ku masih berkomentar bahwa bertahan menjadi anggota palang merah hanya membuat lelah diri sendiri karena harus selalu menolong orang lain. Aku sendiri tak merasa lelah, karena rasa empatilah yang mendorong keinginanku untuk menjadi relawan. Lagipula, jika kita menolong orang lain dengan ikhlas, insyaallah pertolongan yang kita berikan tak terasa berat.

Selain itu, seorang anggota palang merah juga tidak sembarangan dalam melakukan pertolongan kepada korban, karena aku sendiri memperoleh latihan rutin dan pelatihan mengenai medis dasar. Keintelektual penolong digunakan saat akan melakukan pertolongan. Aku juga belajar untuk tidak pilih-pilih dalam menolong.

Organisasian kepalangmerahan di sekolahku juga aktif mengikuti kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh Palang Merah Indonesia. Misalnya, ketika memperingati hari bumi, anggota palang merah dengan sukarela mengikuti kegiatan gerakan kebersihan yaitu menyusuri jalan di kota bogor sambil memungut samapah-sampah yang dibuang sembarangan. Semua kegiatan yang dilakukan dengan senang hati maka akan terasa lebih ringan.